3 Amalan Sunnah Aqiqah yang Sering Terlupa & Doanya

Jakarta –Kelahiran buah hati adalah momen paling membahagiakan bagi setiap orang tua. Sebagai bentuk rasa syukur, banyak keluarga muslim di Indonesia melaksanakan ibadah aqiqah. Sayangnya, tak sedikit orang tua yang terlalu fokus pada proses penyembelihan hewan dan pembagian daging, sehingga amalan sunnah aqiqah lainnya justru terabaikan. Padahal, amalan-amalan ini merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan memiliki makna spiritual yang mendalam.

Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita rangkaian aqiqah yang sempurna melalui sabda beliau:

“Seorang anak tergadaikan dengan (tebusan) aqiqahnya, yang disembelih untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambut kepalanya, dan diberi nama.” (H.R. Abu Dawud)

Hadits ini dengan tegas menunjukkan bahwa aqiqah bukanlah sekadar acara pemotongan hewan. Lantas, apa saja amalan sunnah aqiqah yang sering terlewat tersebut? Simak ulasan lengkap berikut ini.

1. Doa yang Benar: Kunci Diterimanya Amalan Sunnah Aqiqah

Amalan sunnah aqiqah pertama yang sering disepelekan adalah membaca doa yang benar dalam setiap rangkaian aqiqah. Sebagian orang tua hanya melakukan penyembelihan tanpa membaca doa dengan baik, padahal doa ini adalah bentuk penghambaan dan permohonan kepada Allah SWT.

A. Doa Menyembelih Hewan Aqiqah

Saat menyembelih hewan aqiqah, ada doa khusus yang harus dibaca. Berdasarkan panduan dari Lajnah Ta’lif Pustaka Gerbang Lama, Pondok Pesantren Lirboyo, bacaan doanya adalah sebagai berikut:

Arab: بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ [ اللهم مِنْكَ وَلَكَ ] اللهم تَقَبَّلْ مِنِّي هَذِهِ عَقِيْقَةُ …

Latin: Bismillâhi walLâhu Akbar. Allahumma minka wa laka. Allahumma taqabbal minni. Hadzihi ‘aqiqatu… (sebutkan nama bayi)

Artinya: “Dengan menyebut asma Allah. Allah Maha Besar. Ya Allah, dari dan untuk-Mu. Ya Allah, terimalah dari kami. Inilah aqiqahnya … (sebutkan nama bayi).”

Penyembelihan hewan aqiqah juga harus memenuhi syarat sesuai syariat. Hewan yang digunakan untuk aqiqah haruslah sehat, cukup umur, dan tidak cacat. Jika memungkinkan, hewan juga dihadapkan ke arah kiblat saat disembelih.

B. Doa Setelah Menyembelih Hewan Aqiqah

Selain doa saat menyembelih, para ulama juga menganjurkan untuk memanjatkan doa perlindungan bagi sang bayi. Doa ini dibaca setelah proses penyembelihan selesai dan sebelum rambut bayi dicukur.

Arab: اللَّهُمَّ إِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Latin: Allahumma inni u’idzuha bika wa dzurriyyataha minasy syaithanir rajim

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan untuk dia dan keturunannya dari setan yang terkutuk.”

Doa ini menjadi pengingat bahwa amalan sunnah aqiqah tidak hanya berkutat pada aspek fisik, tetapi juga dimensi spiritual berupa perlindungan bagi si buah hati dari gangguan makhluk halus dan hal-hal buruk lainnya.

Hikmah di Balik Amalan Doa: Doa dalam setiap rangkaian aqiqah mengajarkan kita untuk selalu melibatkan Allah SWT dalam setiap langkah kehidupan. Ini adalah wujud ketundukan dan pengakuan bahwa segala nikmat berasal dari-Nya, termasuk karunia seorang anak.

2. Mencukur Rambut & Bersedekah: Amalan Sunnah Aqiqah Paling Sering Terlewat

Inilah amalan sunnah aqiqah yang paling sering luput dari perhatian: mencukur rambut bayi lengkap dengan sedekah perak seberat timbangan rambut. Mayoritas orang tua mungkin hanya mencukur rambut bayi tanpa tahu bahwa ada doa khusus dan kewajiban bersedekah yang menyertainya.

A. Doa Mencukur Rambut Bayi

Proses mencukur rambut bayi juga tidak lepas dari doa. Berikut bacaan doa yang dianjurkan saat menggunting rambut si kecil:

Arab: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَللهم نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَنُوْرُالشَّمْسِ وَالْقَمَرِ, اللهم سِرُّ اللهِ نُوْرُ النُّبُوَّةِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Latin: Bismillâhirrahmânirrahîm. Alhamdulillâhirabbil ‘âlamîn. Allâhumma nûrus samâwâti wa nûrusy syamsyi wal qamari, Allâhumma sirruLlâhi nûrun nubuwwati RasuluLlâhi ShallaLlâhu ‘alaihi wasallam walhamduliLlâhi Rabbil ‘âlamin.

Artinya: “Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Ya Allah, cahaya langit, matahari dan rembulan. Ya Allah, rahasia Allah, cahaya kenabian, Rasululullah SAW, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

B. Amalan yang Paling Terlewat: Menimbang & Menyedekahkan Rambut

Inilah inti dari amalan sunnah aqiqah ini yang sayangnya jarang dilakukan. Berdasarkan fatwa dari Pejabat Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia, perbuatan menimbang rambut dan menyedekahkannya berdasarkan nilai perak ini adalah ibadah dan bukan sekadar adat karena memiliki dalil nas langsung dari Rasulullah SAW.

Dalilnya adalah hadits riwayat At Tirmidzi dari Sayyidina Ali RA:

“Rasulullah SAW mengaqiqahkan seekor kambing bagi al-Hasan dan bersabda: ‘Wahai Fatimah, cukurlah rambutnya dan bersedekahlah perak mengikut berat rambut tersebut.’ Ali berkata: ‘Fatimah pun menimbang rambut itu dan mendapati beratnya satu dirham atau setengah dirham.” (H.R. At Tirmidzi)

Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa Rasulullah SAW juga bersabda: “Timbanglah rambut Hussein, dan sedekahkanlah dengan kadar timbangan itu dengan perak dan hadiahkan kepada bidan kaki binatang akikah itu.” (H.R. Hakim dan al-Baihaqi)

C. Tata Cara Praktis

  1. Cukur seluruh rambut bayi (hindari model qaza’ atau mencukur sebagian)
  2. Timbang rambut yang telah dicukur menggunakan timbangan yang umum digunakan
  3. Hitung nilai perak seberat rambut tersebut (1 dirham setara dengan kurang lebih 2,975 gram perak murni)
  4. Sumbangkan uang senilai perak tersebut kepada fakir miskin, anak yatim, atau yang membutuhkan

Mayoritas ulama (Malikiyah, Syafiiyah, dan Hanabilah) berpendapat bahwa dianjurkan mencukur kepala bayi pada hari ketujuh dan bersedekah seberat rambut berupa emas atau perak. Jika tidak dicukur, maka beratnya dikira-kira dan tetap disedekahkan.

Hikmah di Balik Amalan Ini:

  • Pembersihan Lahir dan Batin – Mencukur rambut adalah simbol pembersihan dari kotoran dan dosa
  • Bentuk Syukur Nyata – Dengan menyedekahkan nilai rambut, kita berbagi kebahagiaan kepada sesama
  • Mengikuti Jejak Rasulullah – Ini adalah amalan sunnah aqiqah yang sering terlupakan, sehingga melakukannya berarti menghidupkan sunnah

3. Pemberian Nama yang Baik: Amalan Sunnah Aqiqah yang Wajib Dipenuhi

Amalan sunnah aqiqah ketiga yang sering terlewat adalah memberi nama dengan benar lengkap dengan doa dan tahnik (mengusap langit-langit mulut). Banyak orang tua hanya memberi nama tanpa tahu bahwa ada tata cara yang diajarkan Rasulullah SAW.

A. Tata Cara Memberi Nama yang Benar

Majelis Tarjih Muhammadiyah memberikan panduan ringkas mengenai tata cara pemberian nama bayi saat aqiqah:

  1. Memberi nama dengan baik dan bermakna positif
  2. Mengusap langit-langit mulut bayi dengan kurma atau sejenisnya (tahnik)
  3. Mendoakan semoga mendapat keberkahan

Praktik ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari:

“Abu Musa berkata: ‘Telah lahir anakku, kemudian aku bawa kepada Nabi SAW, maka beliau memberinya nama Ibrahim lalu diusap langit-langit mulutnya dengan kurma dan didoakan dengan barakah.'” (H.R. al-Bukhari)

B. Doa Perlindungan untuk Anak

Selain pemberian nama, Rasulullah SAW juga mengajarkan doa perlindungan untuk anak-anak. Beliau membacakan doa ini untuk cucu-cucunya, Hasan dan Husein:

Arab: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَامَّةِ مِنْ كل شيطان وَهَمَّاةٍ وَ مِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

Latin: A’udzu bikalimatillahit tammati min kulli syaithanin wa hammatin wa min kulli ‘ainin lammah

Artinya: “Aku berlindung dengan firman Allah yang sempurna dari segala setan, gangguan dari jenis binatang dan serangga yang mematikan, dan dari setiap tatapan mata yang jahat.” (H.R. al-Bukhari)

Doa ini sangat dianjurkan untuk dibacakan kepada anak sebagai bentuk perlindungan dari gangguan makhluk-makhluk Allah SWT. Muhammadiyah juga menjelaskan bahwa memberikan nama merupakan salah satu hak anak yang harus dipenuhi oleh kedua orang tuanya, dan pelaksanaannya dilakukan bersamaan dengan aqiqah.

Hikmah di Balik Amalan Ini:

  • Nama yang baik akan mempengaruhi kepribadian anak
  • Tahnik dengan kurma adalah doa agar anak memiliki akhlak manis
  • Doa perlindungan adalah benteng spiritual sejak dini

Pelengkap yang Sering Terlewat: Ibadah Walimah Aqiqah

Selain tiga amalan sunnah aqiqah utama di atas, ada satu lagi sunnah yang sering terlupakan: mengadakan walimah aqiqah (makan bersama). Daging aqiqah sebaiknya dimasak terlebih dahulu sebelum dibagikan kepada orang lain. Pembagian ini dapat dilakukan kepada keluarga, tetangga, serta fakir miskin.

Berdasarkan fatwa MUI, daging aqiqah boleh dibagikan dalam bentuk olahan (dimasak) maupun mentah, namun yang terpenting adalah niat ibadah dan pembagiannya tepat sasaran.

Aqiqah bukan sekadar acara pemotongan kambing atau sapi. Lebih dari itu, aqiqah adalah rangkaian ibadah yang utuh: doa yang benar di setiap proses, mencukur rambut lengkap dengan sedekah perak, serta pemberian nama yang baik disertai doa perlindungan.

Dengan melengkapi ketiga amalan sunnah aqiqah yang sering terlewat ini, insya Allah ibadah aqiqah akan semakin sempurna dan penuh keberkahan bagi sang buah hati. Jangan sampai kita hanya fokus pada aspek fisik semata, tapi melupakan dimensi spiritual yang justru menjadi inti dari ibadah ini.