Waktu pelaksanaan aqiqah menjadi pertanyaan utama bagi orang tua baru yang ingin menunaikan sunnah Nabi dengan benar. Di tengah kesibukan mengurus bayi dan adaptasi kehidupan baru, banyak keluarga Muslim yang bingung: kapan waktu terbaik melaksanakan aqiqah? Apakah harus tepat hari ketujuh? Bagaimana jika terlambat?
Berdasarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan panduan kitab fikih mu’tabar seperti Fathul Qarib dan Al-Majmu’, ibadah aqiqah memiliki ketentuan waktu yang jelas namun tetap fleksibel sesuai kondisi keluarga. Artikel ini mengupas 5 poin penting waktu pelaksanaan aqiqah untuk orang tua baru, lengkap dengan landasan dalil dan tips praktis agar ibadah ini berjalan lancar dan penuh berkah.
1. Waktu Utama: Hari Ketujuh Setelah Kelahiran
Waktu paling utama untuk waktu pelaksanaan aqiqah adalah hari ketujuh setelah kelahiran bayi, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad dan Abu Dawud dari Samurah bin Jundub. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh.”
Menurut Imam Nawawi dalam Al-Adzkar, hari ketujuh dihitung sejak hari kelahiran (termasuk hari lahir). Jika bayi lahir hari Senin, maka hari ketujuh jatuh pada hari Minggu minggu berikutnya. Waktu ini dianggap utama karena mengikuti sunnah Nabi secara tepat dan menjadi momentum syukur atas kelahiran buah hati.
2. Fleksibilitas Waktu: Jika Tidak Bisa Hari Ketujuh
Bagi orang tua baru yang belum memungkinkan melaksanakan aqiqah di hari ketujuh, waktu pelaksanaan aqiqah tetap bisa dilakukan di hari keempat belas, kedua puluh satu, atau kapan saja sebelum anak mencapai usia baligh.
Fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2023 menegaskan bahwa penundaan aqiqah tidak menggugurkan sunnah, selama disertai niat yang tulus dan keterbatasan yang syar’i (seperti kondisi keuangan, kesehatan, atau ketersediaan hewan). Bahkan, jika orang tua baru mengetahui kewajiban aqiqah setelah anak dewasa, ibadah ini tetap sah dilaksanakan sebagai qadha sunnah.
3. Waktu Terlarang dan Hal yang Perlu Dihindari
Meski fleksibel, ada beberapa waktu yang sebaiknya dihindari untuk waktu pelaksanaan aqiqah. Pertama, hari raya Idul Adha dan hari Tasyrik (11-13 Dzulhijjah), karena fokus ibadah pada qurban. Kedua, waktu-waktu yang dilarang untuk penyembelihan menurut syariat, seperti saat matahari terbit atau terbenam.
Menurut Baznas, penting juga menghindari penjadwalan yang terburu-buru tanpa persiapan matang. Pastikan hewan sudah memenuhi kriteria syar’i, tim penyembelih kompeten, dan distribusi daging sudah terencana. Kualitas pelaksanaan lebih utama daripada sekadar mengejar tanggal.
4. Tips Merencanakan Waktu Aqiqah untuk Orang Tua Baru

Agar waktu pelaksanaan aqiqah berjalan lancar, rencanakan sejak awal kehamilan. Pertama, sisihkan dana khusus setiap bulan untuk budget aqiqah. Kedua, riset vendor aqiqah terpercaya yang memiliki sertifikat halal MUI dan transparan dalam rincian layanan.
Ketiga, booking jadwal penyembelihan minimal 2-3 minggu sebelum hari-H, terutama jika jatuh di bulan ramai seperti Ramadhan atau menjelang Idul Adha. Keempat, siapkan daftar penerima daging (fakir miskin, tetangga, keluarga) agar distribusi berjalan tertib. Kelima, dokumentasikan proses aqiqah sebagai kenangan dan bukti ibadah.
5. Kesalahan Umum dalam Penjadwalan Aqiqah
Dalam praktiknya, masih banyak orang tua baru yang keliru dalam menentukan waktu pelaksanaan aqiqah. Pertama, menganggap aqiqah wajib sehingga memaksakan jadwal di luar kemampuan finansial. Kedua, menunda tanpa batas dengan alasan “nanti saja”, padahal sunnah ini sangat dianjurkan.
Ketiga, memilih vendor hanya berdasarkan harga termurah tanpa verifikasi kualitas hewan dan proses penyembelihan. Menurut pengamat fikih dari Ma’had Asy-Syir’ah, aqiqah yang sah bergantung pada keikhlasan, hewan yang layak, dan proses yang sesuai tuntunan — bukan sekadar tanggal di kalender.
Langkah Awal untuk Orang Tua Baru
Jadi, mulai dari mana? Pertama, hitung hari ketujuh sejak kelahiran bayi dan tandai di kalender. Kedua, konsultasikan dengan pasangan dan keluarga tentang budget dan preferensi paket aqiqah. Ketiga, hubungi vendor terpercaya untuk cek ketersediaan jadwal dan hewan.
Jangan lupa libatkan doa dan niat yang tulus. Aqiqah bukan sekadar ritual, melainkan bentuk syukur dan harapan agar buah hati tumbuh menjadi anak yang shalih/shalihah, sehat, dan bermanfaat bagi umat.
Kesimpulan
Waktu pelaksanaan aqiqah yang utama adalah hari ketujuh setelah kelahiran, namun syariat Islam memberikan fleksibilitas bagi keluarga yang memiliki keterbatasan. Kuncinya bukan pada ketepatan tanggal, melainkan pada keikhlasan niat, kepatuhan syariat, dan kualitas pelaksanaan.
Dengan perencanaan matang dan pemilihan vendor yang amanah, orang tua baru dapat menunaikan sunnah aqiqah dengan tenang dan penuh makna. Semoga panduan ini membantu kalian melaksanakan ibadah aqiqah yang sah, berkah, dan menjadi awal kebaikan untuk buah hati tercinta.
