5 Penyakit yang Sering Menyerang Hewan Ternak Kambing dan Cara Pencegahannya

Menjaga kesehatan kambing adalah investasi utama bagi peternak, khususnya bagi yang menyiapkan hewan aqiqah berkualitas. Kambing yang sehat meningkatkan produktivitas dan memastikan ibadah berjalan lancar dengan hewan yang memenuhi syarat syar’i. Berdasarkan data Kementerian Pertanian RI, kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) meningkat signifikan pada 2025, menyebabkan kerugian ekonomi miliaran rupiah akibat penahanan distribusi dan kematian ternak. Artikel ini mengulas lima penyakit umum pada kambing beserta cara penanganan berdasarkan pedoman dokter hewan dan pakar peternakan di Indonesia.

1. Penyakit Mulut dan Kuku (PMK): Ancaman Epidemiologi Utama

PMK disebabkan oleh virus Aphthovirus (famili Picornaviridae) yang menyerang hewan berkuku genap. Perlu ditekankan bahwa PMK pada hewan tidak sama dengan Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) pada manusia, sehingga tidak menimbulkan risiko penularan langsung ke manusia.

Gejala Klinis:

  • Demam tinggi mencapai 40–41°C
  • Timbul vesikel atau lepuh berisi cairan di mukosa mulut, lidah, dan korona kuku
  • Hipersalivasi (air liur berlebihan) dan penurunan nafsu makan
  • Klaudikasi (pincang) hingga kelepasan kuku pada kasus lanjut

Pencegahan dan Penanganan: drh. Hasbulloh Ghofur dari DKPP Kabupaten Madiun menekankan pentingnya manajemen kandang dan nutrisi. “Ternak yang rutin mendapat suplementasi vitamin dan mineral serta dipelihara di lingkungan bersih memiliki respons imun lebih baik terhadap penyakit musiman,” ujarnya.

Langkah preventif untuk mengantisipasi penyakit umum pada kambing seperti PMK meliputi:

  • Vaksinasi rutin setiap 6 bulan sesuai program Dinas Peternakan setempat
  • Karantina hewan baru minimal 14 hari sebelum integrasi ke populasi utama
  • Disinfeksi kandang mingguan menggunakan sodium karbonat 4% atau desinfektan veteriner terdaftar
  • Isolasi segera hewan yang menunjukkan gejala dan laporkan ke petugas kesehatan hewan

Penanganan medis meliputi pemberian antiinflamasi nonsteroid, aplikasi antiseptik topikal pada lesi, serta suportif hidrasi. Daging dari hewan yang pulih dari PMK tetap aman dikonsumsi setelah dimasak pada suhu ≥70°C, selama hewan tidak mati secara langsung akibat infeksi akut.

2. PPR (Peste des Petits Ruminants): Infeksi Virus dengan Fatalitas Tinggi

PPR adalah penyakit virus yang sangat menular pada kambing dan domba, dengan tingkat mortalitas mencapai 50–80% pada populasi yang tidak divaksinasi. Penyakit ini menjadi prioritas nasional dalam program pengendalian penyakit hewan menular strategis.

Gejala Klinis:

  • Demam tinggi disertai discharge mukopurulen dari hidung dan mata
  • Stomatitis nekrotika dan gangguan pencernaan (diare, muntah)
  • Distres pernapasan dan batuk kering
  • Depresi klinis dan anoreksia progresif

Pencegahan dan Penanganan: Vaksinasi massal menggunakan vaksin live-attenuated PPR tetap menjadi strategi utama dalam memutus mata rantai penyakit umum pada kambing yang bersifat menular cepat. Dinas Peternakan daerah rutin melaksanakan kampanye vaksinasi di sentra peternakan.

Protokol darurat:

  • Pisahkan segera hewan yang menunjukkan gejala ke kandang isolasi
  • Lakukan desinfeksi peralatan dan lingkungan secara menyeluruh
  • Laporkan ke otoritas veteriner untuk investigasi dan konfirmasi laboratorium
  • Terapkan biosekuriti ketat selama masa inkubasi (7–10 hari)

3. Bloat (Timpani Rumen): Gangguan Pencernaan Akut

Bloat atau timpani rumen terjadi akibat akumulasi gas fermentasi yang tidak dapat dikeluarkan melalui eruktasi. Kondisi ini sering dipicu oleh manajemen pakan yang tidak tepat dan dapat berakibat fatal dalam hitungan jam. Gangguan pencernaan seperti bloat merupakan salah satu penyakit umum pada kambing yang sering dipicu oleh kesalahan pemberian hijauan.

Gejala Klinis:

  • Pembesaran distensi pada fossa paralumbalis kiri (perut kiri membesar)
  • Bunyi perkusi seperti drum (timpanik)
  • Gelisah, dispnea, dan sianosis pada membran mukosa
  • Penurunan mobilitas hingga kolaps pada kasus berat

Faktor Pemicu:

  • Pemberian hijauan basah, berembun, atau terlalu muda
  • Konsumsi leguminosa tinggi protein tanpa adaptasi
  • Pemberian pakan dengan kandungan saponin atau tanin tinggi secara mendadak

Penanganan Darurat: Berikan antifoaming agent (poloxalene atau minyak nabati 50–100 ml) secara oral. Lakukan massage ringan pada rumen untuk stimulasi motilitas. Pada kasus refrakter, pemasangan stomach tube atau rumenotomy oleh dokter hewan diperlukan. Pencegahan terbaik adalah adaptasi pakan bertahap dan penghindaran pemberian hijauan basah secara langsung.

4. Pneumonia: Infeksi Saluran Pernapasan Bawaan Lingkungan

Pneumonia pada kambing umumnya bersifat multifaktorial, melibatkan bakteri primer (Pasteurella multocida, Mannheimia haemolytica) dan faktor stres lingkungan. Penyakit ini sering kali menjadi penyakit umum pada kambing yang muncul akibat kondisi kandang yang lembap dan sirkulasi udara buruk.

Gejala Klinis:

  • Batuk kering berlanjut menjadi produktif
  • Hipertermia dan takipnea (pernapasan cepat dan dangkal)
  • Nasal discharge dan konjungtivitis
  • Anoreksia, lesu, dan penurunan produktivitas

Manajemen Pencegahan:

  • Optimalkan ventilasi kandang untuk mengurangi kelembapan dan amonia
  • Ganti bedding secara rutin dan hindari kepadatan berlebihan
  • Vaksinasi terhadap patogen pernapasan sesuai rekomendasi dokter hewan
  • Isolasi hewan sakit dan hindari pencampuran kelompok umur

Terapi antibiotik harus didasarkan pada uji sensitivitas atau pedoman terapi empiris dari dokter hewan. Dukungan hidrasi dan nutrisi selama masa pemulihan sangat krusial untuk mencegah sekuele kronis.

5. Orf (Ecthyma Contagiosum): Penyakit Kulit Zoonotik

Orf disebabkan oleh virus Parapox yang sangat menular pada kambing dan bersifat zoonosis. Peternak, penjagal, atau tenaga medis hewan yang kontak langsung dengan lesi berisiko terinfeksi. Orf termasuk dalam kategori penyakit umum pada kambing yang memerlukan penanganan khusus untuk mencegah penularan silang.

Gejala Klinis:

  • Lesi papulovesikular di komisura bibir, mukosa mulut, dan hidung
  • Perkembangan menjadi pustula bernanah dan akhirnya krusta tebal
  • Pembengkakan regio orofasial pada kasus berat
  • Penularan cepat dalam populasi (morbiditas mendekati 100%)

Pencegahan dan Penanganan:

  • Karantina hewan baru minimal 14 hari
  • Disinfeksi lingkungan rutin; virus Orf dapat bertahan lama di material organik
  • Gunakan alat pelindung diri (sarung tangan nitril, masker) saat menangani hewan terinfeksi
  • Terapi suportif dan antiseptik topikal; antibiotik sistemik hanya jika terjadi infeksi sekunder bakteri

Strategi Biosekuriti Terpadu

drh. Budi Purwo Widiarso, MP, dari Polbangtanyoma menekankan bahwa pengendalian penyakit umum pada kambing tidak dapat mengandalkan penanganan kuratif semata. “Biosekuriti yang konsisten meliputi sanitasi kandang, kontrol lalu lintas hewan, nutrisi berimbang, dan vaksinasi terjadwal merupakan fondasi utama kesehatan ternak,” ujarnya.

Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya dalam program Sekolah Lapang Peternakan menambahkan bahwa pemisahan area bersih-kotor, pencucian tangan petugas, dan pencatatan kesehatan ternak secara digital dapat menekan angka kejadian penyakit umum pada kambing hingga 60%.

Selain lima penyakit umum pada kambing di atas, peternak juga perlu mewaspadai mastitis (infeksi ambing pada induk menyusui) dan enterotoksemia (toksin Clostridium perfringens akibat pakan berlebihan). Keduanya memerlukan manajemen pakan terkontrol dan vaksinasi spesifik.

Pemahaman mendalam tentang penyakit umum pada kambing serta penerapan protokol pencegahan yang konsisten merupakan kunci keberlanjutan usaha peternakan. Kolaborasi antara peternak, dokter hewan, dan otoritas veteriner daerah dapat meminimalkan kerugian ekonomi dan memastikan ketersediaan hewan aqiqah yang sehat dan sesuai syar’i.

Selalu konsultasikan gejala tidak wajar dengan dokter hewan atau petugas kesehatan hewan terdekat untuk diagnosis akurat dan penanganan tepat waktu. Investasi pada kesehatan ternak bukan hanya langkah preventif, melainkan fondasi ekonomi dan ibadah yang berkelanjutan dalam mengelola penyakit umum pada kambing.