Tata cara aqiqah anak laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan mendasar yang perlu dipahami oleh orang tua Muslim di Indonesia. Meskipun esensi ibadah ini sama sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran buah hati, terdapat variasi dalam jumlah hewan, waktu pelaksanaan, dan beberapa aspek teknis lainnya yang diatur dalam fikih Islam.
Berdasarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan konsensus ulama empat mazhab, aqiqah merupakan sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) yang sebaiknya dilaksanakan oleh orang tua yang mampu. Pemahaman yang benar tentang prosedur pelaksanaan aqiqah sesuai syariat menjadi penting agar ibadah ini sah dan diterima oleh Allah SWT.
Perbedaan Jumlah Hewan untuk Anak Laki-Laki dan Perempuan
Perbedaan paling mendasar dalam tata cara aqiqah anak laki-laki dan perempuan terletak pada jumlah hewan yang disembelih. Untuk anak laki-laki, mayoritas ulama menganjurkan menyembelih dua ekor kambing atau domba yang memenuhi syarat. Sementara untuk anak perempuan, cukup satu ekor hewan.
Menurut pandangan mazhab Syafi’i yang banyak dianut di Indonesia, ketentuan ini berdasarkan hadits riwayat Ummu Kurz Al-Ka’biyah yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan aqiqah untuk anak laki-laki dua ekor dan untuk anak perempuan satu ekor. Namun, sebagian ulama membolehkan satu ekor untuk anak laki-laki jika kemampuan finansial terbatas.
Waktu Pelaksanaan yang Dianjurkan
Waktu pelaksanaan aqiqah yang paling utama adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran. Perhitungan hari ini termasuk hari kelahiran. Misalnya, jika anak lahir pada hari Senin, maka hari ketujuh jatuh pada hari Minggu pekan berikutnya.
Menurut Baznas, jika orang tua tidak mampu melaksanakan pada hari ketujuh, dapat dilaksanakan pada hari keempat belas atau kedua puluh satu. Jika masih belum memungkinkan, bisa dilaksanakan kapan saja ketika orang tua telah memiliki kemampuan finansial, bahkan setelah anak dewasa sekalipun. Fleksibilitas ini menunjukkan rahmat Islam yang memahami kondisi umatnya.
Syarat dan Kriteria Hewan yang Sah
Hewan yang digunakan untuk aqiqah harus memenuhi kriteria serupa dengan hewan qurban. Usia minimal kambing adalah satu tahun atau telah bergigi, sedangkan domba minimal enam bulan. Hewan harus dalam kondisi sehat, tidak cacat, dan tidak kurus.
Majelis Ulama Indonesia menekankan bahwa kriteria kesehatan hewan menjadi prioritas utama. Hewan yang sakit, pincang, buta, atau sangat kurus tidak sah digunakan untuk aqiqah. Pemeriksaan kesehatan hewan sebelum pembelian sangat dianjurkan untuk memastikan kualitas dan keabsahan ibadah.
Proses Penyembelihan Sesuai Syariat
Penyembelihan hewan aqiqah harus dilakukan sesuai tuntunan syariat Islam. Penyembelih sebaiknya seorang Muslim yang baligh dan berakal. Proses penyembelihan dilakukan dengan membaca basmalah dan shalawat, serta memotong tiga saluran: tenggorokan, kerongkongan, dan dua urat leher.
Menurut panduan Kemenag, hewan disembelih dengan pisau yang tajam untuk meminimalkan penderitaan. Setelah penyembelihan, darah dibiarkan mengalir hingga tuntas sebelum hewan dikuliti dan dipotong-potong. Seluruh proses ini sebaiknya disaksikan atau diwakili oleh orang tua anak yang melaksanakan aqiqah.
Pembagian Daging dan Pengolahannya
Daging aqiqah sebaiknya dibagikan dalam keadaan sudah dimasak, berbeda dengan daging qurban yang boleh dibagikan mentah. Hal ini berdasarkan praktik para sahabat Nabi yang memasak daging aqiqah sebelum dibagikan kepada tetangga dan fakir miskin.
Pengolahan daging bisa berupa gulai, sate, tongseng, atau olahan lainnya sesuai selera dan budaya lokal. Sebagian daging boleh dimakan oleh keluarga yang melaksanakan aqiqah, sebagian disedekahkan, dan sebagian lagi bisa dihadiahkan kepada kerabat. Tidak ada ketentuan persentase yang baku, yang penting adalah semangat berbagi dan rasa syukur.
Pemberian Nama dan Doa untuk Anak

Dalam tata cara aqiqah anak laki-laki dan perempuan, pemberian nama yang baik merupakan bagian integral dari ibadah ini. Nama sebaiknya dipilih yang bermakna positif dan mengandung doa untuk masa depan anak.
Ulama menganjurkan nama-nama yang baik seperti Abdullah, Abdurrahman untuk laki-laki, atau Fatimah, Aisyah untuk perempuan. Namun, nama-nama baik dalam bahasa Indonesia atau bahasa lain juga diperbolehkan selama maknanya positif dan tidak bertentangan dengan syariat Islam.
Doa dan Niat Aqiqah
Niat aqiqah dilafalkan dalam hati saat akan menyembelih hewan. Niat untuk anak laki-laki: “Saya niat menyembelih hewan aqiqah untuk anak laki-laki saya (sebutkan nama), sunnah karena Allah Ta’ala.” Untuk anak perempuan, lafal serupa dengan menyesuaikan kata ganti.
Setelah penyembelihan, dianjurkan membaca doa untuk keselamatan dan keberkahan anak. Doa ini bisa dipanjatkan oleh orang tua, keluarga, atau ulama yang hadir dalam acara aqiqah. Momen ini menjadi waktu mustajab untuk memohon perlindungan Allah bagi buah hati.
Langkah Awal untuk Kalian
Jadi, apa yang perlu kalian persiapkan? Pertama, tentukan budget dan pilih vendor aqiqah terpercaya yang memiliki sertifikat halal MUI. Kedua, pilih hewan yang sehat dan memenuhi syarat syar’i. Ketiga, tentukan jadwal pelaksanaan yang sesuai, idealnya hari ketujuh setelah kelahiran.
Konsultasikan dengan ulama atau ustadz setempat jika ada keraguan tentang tata cara pelaksanaan. Yang terpenting adalah keikhlasan dan niat tulus untuk menjalankan sunnah Rasulullah SAW serta rasa syukur atas anugerah keturunan.
Semoga panduan tata cara aqiqah anak laki-laki dan perempuan ini membantu kalian melaksanakan ibadah dengan benar dan penuh keberkahan. Karena pada akhirnya, aqiqah bukan sekadar ritual, melainkan bentuk cinta dan tanggung jawab orang tua untuk melindungi anak dengan doa dan ibadah.
