
Jakarta, 3 April 2025 – Aqiqah merupakan salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan dalam agama Islam, dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran seorang anak. Meskipun penyembelihan hewan aqiqah bisa dilakukan kapan saja setelah kelahiran, ada waktu-waktu tertentu yang lebih utama dalam pelaksanaannya. Memahami waktu terbaik untuk menyembelih hewan aqiqah tidak hanya penting untuk mendapatkan keberkahan, tetapi juga agar ibadah ini dapat dilaksanakan dengan cara yang benar sesuai dengan ajaran agama.
Lalu, kapan sebenarnya waktu utama untuk menyembelih hewan aqiqah? Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam tentang waktu yang paling tepat untuk melaksanakan aqiqah, serta berbagai ketentuan yang harus dipahami oleh umat Islam.
Apa Itu Aqiqah?
Sebelum membahas lebih jauh tentang waktu pelaksanaan, mari kita ingat kembali apa itu aqiqah. Aqiqah adalah penyembelihan hewan (biasanya kambing atau domba) sebagai bentuk syukur orangtua atas kelahiran anak mereka. Aqiqah juga berfungsi sebagai doa dan harapan bagi sang anak agar tumbuh sehat, menjadi anak yang saleh dan salehah, serta mendapat perlindungan dari Allah SWT.
Aqiqah dianjurkan untuk dilakukan pada hari ketujuh setelah kelahiran. Namun, dalam praktiknya, aqiqah seringkali dilakukan pada hari-hari berikutnya jika ada alasan tertentu, seperti kesibukan atau kendala lainnya.
Waktu Utama untuk Menyembelih Hewan Aqiqah
Menurut para ulama, waktu utama untuk melaksanakan aqiqah adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Hal ini berdasarkan hadis dari Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan, “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh kelahirannya, dicukur rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Abu Dawud)
1. Hari Ketujuh (Hari yang Paling Utama)
Pelaksanaan aqiqah pada hari ketujuh setelah kelahiran anak adalah yang paling utama dan disarankan oleh mayoritas ulama. Pada hari ketujuh ini, selain menyembelih hewan aqiqah, terdapat juga ritual lain seperti mencukur rambut bayi dan memberi nama. Hal ini menjadi bagian dari syariat yang menandai perayaan kelahiran anak secara lengkap, baik secara fisik maupun spiritual.
Penyembelihan hewan aqiqah pada hari ketujuh memiliki keutamaan tersendiri, karena merupakan waktu yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Selain itu, pada waktu ini juga terdapat doa-doa dan harapan terbaik yang diucapkan oleh orangtua untuk anak mereka, yang diyakini dapat membawa keberkahan dan perlindungan sepanjang hidup.
2. Boleh Dilakukan pada Hari ke-14 dan ke-21
Meski waktu utama adalah pada hari ketujuh, ada kelonggaran bagi orangtua yang belum sempat melaksanakannya. Dalam hal ini, aqiqah boleh dilaksanakan pada hari ke-14 dan ke-21 setelah kelahiran, meskipun keutamaannya tidak sebanding dengan hari ketujuh. Hal ini berdasarkan pendapat para ulama yang memberikan kelonggaran bagi pelaksanaan aqiqah jika ada alasan yang sah, seperti kesulitan atau keterbatasan waktu.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, disebutkan bahwa “Jika belum dapat dilakukan pada hari ketujuh, maka bisa dilaksanakan pada hari keempat belas atau kedua puluh satu.” Ini berarti bahwa meski ada kelonggaran waktu, sebaiknya tidak terlalu lama menunda pelaksanaan aqiqah, mengingat pentingnya momen tersebut dalam kehidupan anak dan orangtua.
3. Setelah Hari ke-21: Boleh Tapi Tidak Utama
Jika aqiqah belum terlaksana pada hari ketujuh, keempat belas, atau kedua puluh satu, penyembelihan hewan aqiqah masih dapat dilakukan pada hari-hari berikutnya. Namun, pada titik ini, pelaksanaan aqiqah tidak lagi dianggap utama. Meskipun demikian, tidak ada batasan waktu yang ketat dalam Islam mengenai kapan aqiqah harus dilaksanakan, sehingga selama belum terlaksana, ibadah ini tetap dapat dilakukan kapan saja, asalkan dengan niat yang tulus dan penuh harapan.
Waktu yang Dilarang untuk Menyembelih Hewan Aqiqah
Meskipun secara umum aqiqah bisa dilaksanakan kapan saja setelah kelahiran, ada beberapa waktu yang dianggap tidak tepat atau tidak disarankan untuk melakukan aqiqah, antara lain:
- Hari-hari yang dilarang untuk berqurban: Seperti pada hari-hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijah) yang merupakan hari-hari larangan untuk menyembelih hewan qurban. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk menghindari pelaksanaan aqiqah pada hari-hari tersebut.
- Hari-hari yang dianggap tidak menguntungkan secara spiritual: Meskipun tidak ada larangan tegas dalam agama, banyak orangtua memilih untuk tidak melakukan aqiqah pada hari-hari yang dianggap penuh kesibukan atau yang kurang mendatangkan keberkahan, seperti hari-hari dengan cuaca buruk atau pada saat suasana hati sedang buruk.
Keutamaan Aqiqah Bagi Anak
Melaksanakan aqiqah pada waktu yang tepat memiliki banyak manfaat. Selain sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran anak, aqiqah dipercaya dapat memberikan keberkahan hidup bagi sang anak. Beberapa manfaat lainnya antara lain:
- Mendoakan Anak untuk Sehat dan Selamat: Aqiqah diharapkan menjadi sarana doa agar anak senantiasa sehat dan terhindar dari berbagai mara bahaya.
- Sebagai Tanda Kasih Sayang Orangtua: Dengan menyelenggarakan aqiqah, orangtua menunjukkan rasa kasih sayang mereka kepada sang anak sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT.
- Menghilangkan “Penghalang” bagi Anak: Dalam ajaran Islam, anak yang belum diaqiqahi dianggap seperti tergadai dengan aqiqahnya, dan melaksanakan aqiqah diharapkan dapat menghilangkan penghalang tersebut.
Kesimpulan
Waktu utama untuk menyembelih hewan aqiqah adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Namun, jika karena suatu alasan tidak bisa dilakukan pada hari tersebut, orangtua masih dapat melaksanakannya pada hari ke-14 atau ke-21. Setelah itu, meskipun masih sah secara syariat, pelaksanaan aqiqah tidak lagi dianggap sebagai waktu utama. Yang terpenting adalah niat yang tulus dan harapan baik bagi masa depan anak, serta rasa syukur kepada Allah SWT atas karunia-Nya. Sebagai orangtua, melaksanakan aqiqah dengan tepat waktu adalah wujud ibadah yang penuh berkah dan akan menjadi kenangan yang indah dalam perjalanan hidup anak.