Apakah Aqiqah Harus Digelar Mewah? Begini Kata Ustadz Soal Acara Seremonial

Aqiqah harus digelar mewah atau cukup sederhana? Pertanyaan ini sering menghantui orang tua Muslim yang ingin menunaikan sunnah Nabi namun terkendala budget. Di tengah budaya seremonial yang semakin berkembang, penting untuk kembali merujuk pada tuntunan syar’i agar ibadah aqiqah tetap bermakna tanpa membebani finansial.

Berdasarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pandangan ulama fikih terkemuka, aqiqah harus digelar mewah bukanlah syarat sah ibadah. Yang utama adalah niat ikhlas, hewan yang memenuhi kriteria syar’i, dan distribusi daging kepada yang berhak. Artikel ini mengupas 5 poin penting seputar kesederhanaan dalam aqiqah, lengkap dengan panduan praktis dari para ustadz dan ahli agama tanah air.

1. Esensi Aqiqah: Syukur dan Sedekah, Bukan Pamer Kemewahan

Menurut mayoritas ulama Indonesia, esensi aqiqah harus digelar mewah atau sederhana terletak pada niat dan substansi ibadah. Aqiqah adalah bentuk syukur atas kelahiran anak dan sedekah kepada masyarakat, bukan ajang pamer status sosial.

Menurut Ustadz Dr. Khalid Basalamah dalam kajian fikihnya, “Yang dinilai Allah dalam aqiqah adalah keikhlasan dan kepatuhan pada tuntunan Nabi, bukan seberapa mewah acaranya.” Fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2023 juga menegaskan bahwa kesederhanaan dalam ibadah justru lebih dekat dengan semangat Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

2. Kriteria Sah Aqiqah: Hewan, Penyembelihan, dan Distribusi

Agar aqiqah sah secara syar’i, fokus harus pada tiga pilar utama: hewan yang memenuhi kriteria (sehat, cukup umur, bebas cacat), penyembelihan yang sesuai adab Islam, dan distribusi daging kepada fakir miskin, kerabat, atau tetangga.

Menurut Baznas, tidak ada ketentuan dalam syariat yang mensyaratkan acara seremonial mewah sebagai bagian dari aqiqah. “Yang penting adalah dagingnya sampai kepada yang membutuhkan dengan cara yang baik,” ujar perwakilan Baznas dalam panduan aqiqah nasional. Acara kumpul-kumpul keluarga boleh dilakukan, namun sifatnya sunnah muakkadah, bukan wajib.

3. Budaya Seremonial: Antara Tradisi dan Tuntunan Agama

Fenomena aqiqah harus digelar mewah seringkali lebih didorong oleh budaya dan tekanan sosial daripada tuntunan agama. Di beberapa daerah, ada ekspektasi bahwa aqiqah harus disertai walimah besar, dekorasi mewah, dan hiburan meriah.

Menurut pengamat sosial keagamaan dari UIN Jakarta, “Tradisi boleh diikuti selama tidak bertentangan dengan syariat dan tidak membebani.” Jika anggaran terbatas, orang tua dianjurkan memprioritaskan kualitas hewan dan ketepatan distribusi daripada kemewahan acara. Islam mengajarkan keseimbangan: menghormati budaya lokal tanpa mengorbankan prinsip agama.

4. Solusi Praktis: Aqiqah Sederhana yang Tetap Bermakna

Bagi keluarga dengan budget terbatas, aqiqah harus digelar mewah bukanlah opsi yang realistis — dan itu tidak masalah. Ada banyak cara menyelenggarakan aqiqah yang sederhana namun tetap penuh berkah.

Menurut Asosiasi Pengusaha Aqiqah Indonesia, paket aqiqah hemat dengan hewan berkualitas, penyembelihan syar’i, dan distribusi terorganisir bisa didapat dengan harga terjangkau. Orang tua juga bisa memilih opsi catering sederhana atau bahkan membagikan daging mentah kepada penerima yang mampu mengolahnya sendiri. Yang terpenting: niat lurus, proses benar, dan manfaat sampai kepada masyarakat.

5. Nasehat Ustadz: Fokus pada Nilai Spiritual, Bukan Formalitas

Berbagai ulama Indonesia sepakat bahwa aqiqah harus digelar mewah bukan prioritas. Ustadz Abdul Somad dalam ceramahnya menekankan, “Jangan sampai urusan dunia mengalahkan urusan akhirat. Aqiqah itu ibadah, bukan pesta.”

Senada dengan itu, Ustadz Hanan Attaki mengingatkan bahwa anak yang diaqiqahi dengan ikhlas dan sederhana bisa menjadi lebih berkah daripada yang dihelat mewah namun penuh riya’. “Allah melihat hati, bukan tampilan,” ujarnya. Nasehat ini menjadi pengingat penting bagi orang tua: fokuslah pada nilai spiritual aqiqah, bukan pada formalitas seremonial.

Tips Merencanakan Aqiqah yang Bijak dan Berkesan

Agar aqiqah berjalan lancar tanpa membebani, terapkan tips berikut: Pertama, rencanakan budget sejak awal kehamilan dan prioritaskan kualitas hewan. Kedua, pilih vendor aqiqah terpercaya yang transparan dalam harga dan proses.

Ketiga, libatkan keluarga dalam momen sederhana: doa bersama, potong rambut bayi, dan sedekah daging — semua bisa dilakukan dengan hangat tanpa perlu dekorasi mewah. Keempat, dokumentasikan momen dengan foto/video sederhana sebagai kenangan. Kelima, ajarkan nilai syukur dan sedekah kepada anak sejak dini sebagai warisan spiritual yang tak ternilai.

Kesimpulan

Aqiqah harus digelar mewah bukanlah tuntutan syariat, melainkan pilihan budaya yang bisa disesuaikan dengan kemampuan. Yang utama adalah niat ikhlas, hewan yang memenuhi kriteria syar’i, dan distribusi daging kepada yang berhak.

Dengan memahami esensi aqiqah yang sebenarnya, orang tua Muslim dapat menunaikan sunnah Nabi dengan tenang, tanpa terhimpit tekanan sosial atau beban finansial. Karena pada akhirnya, keberkahan aqiqah tidak diukur dari kemewahan acara, tetapi dari keikhlasan hati dan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat.